berikut aku share artikel ku yang di muat di CNN Indonesia..

Namaku Sani Wijaya. Aku lahir di kota Pematang Siantar. Selanjutnya kuliah di Jakarta sampai sekarang sudah 20 tahun menetap di Jakarta, tapi selalu kangen dengan kota kelahiranku. Kangen makanannya, kangen teman teman sekolah dulu, dan kangen banyak tempat kenangan di sana.

Mama pernah cerita kalau aku lahir di Rumah Sakit Umum di kota Siantar tiga puluh delapan tahun yang lalu. RS Umum itu termasuk RS yang besar dan dengan taman yang luas. Bangunan tua bergaya arsitektur zaman Belanda. Sepertinya untuk saat ini cocok untuk shooting film-film horor ala Indonesia, he..he..

Mama cerita kalau saat itu hujan deras, tiba tiba Mama merasa sakit perut dan sudah saatnya melahirkan. Ditemanin nenekku, mereka berdua naik becak motor ke RS Umum. Jadilah aku lahir di RS Umum kota Siantar.

Dari TK sampai SMA aku selalu di sekolah yang sama. Saat TK, papa mengantarku ke sekolah dengan sepedanya. Setelah mulai menduduki bangku SMP aku mulai berjalan kaki pergi dan pulang sekolah. Kalau telat baru naik mopen (sejenis angkot). Sangat jarang naik becak motor karena tergolong mahal saat itu.

Teman-temanku dari berbagai etnis. Walau aku dari latar belakang keluarga Chinese, tapi saat sekolah aku punya banyak teman teman dari berbagai etnis seperti Batak, Jawa bahkan India. Saat pulang sekolah selalu ada teman-teman yang menemaniku jalan kaki pulang karena memang rumah mereka serarah dengan jalan menuju rumahku.

Bahkan saat aku SMA, di kelas 90 persen temanku dari etnis yang berbeda denganku. Tetapi justru perbedaan itu membuat persahabatan kami menjadi indah.

Yang paling melekat di ingatanku, aku pernah duduk sebangku dengan Epita Damanik. Kami berdua suka nongkrong di stasiun radio FM satu-satunya di Siantar saat itu, yaitu CAS (Citra Anak Siantar) FM, yang  saat itu berlokasi di lantai dua Pajak Parluasan (Pajak itu sama artinya dengan Pasar).

Kami berdua punya penyiar radio favorit yang sama. Tak segan-segan juga kami merogoh kocek untuk membayar lagu-lagu yang kami request untuk orang-orang terdekat tentunya.

Keluarga kami membuka usaha kedai kopi di Siantar. Kalau zaman sekarang orang orang nongkrong di cafe-cafe, saat dua puluh tahun yang lalu adanya kedai kedai kopi di Siantar. Pelanggan kami umumnya polisi, guru bahkan wartawan. Bahkan kalau mama ada keperluan ke kantor polisi, rata rata polisi di sana kenal dengan mama.

Banyak sekali cerita tentang kota kelahiranku, aku sering menceritakan kisah masa kecilku dengan anak-anakku. Jadinya mereka tertarik untuk mengunjungi Siantar dan ingin sekali melihat sekolah di mana mamanya dulu bersekolah dan tumbuh besar.

check link :

http://student.cnnindonesia.com/pelajar/20151117165136-322-92256/perbedaan-itu-indah-banget/